Wedangan at Solo

Wedangan, pernah dengar nggak kata ini? Kayaknya pernah dengar, tapi dimana ya?….Kalo kawan pernah datang di Solo atau tinggal diSolo dan sekitarnya tentu tidak asing dengan kata-kata tersebut, ya wedangan! Tersusun dari kata dari bahasa jawa wedang (minuman, biasanya minuman panas) yang di tambah akhiran an yang kalo diartikan bebas (makasudnya menurutku) adalah minum-minuman (bukan keras lho) . Trus apa istimewanya wedangan ini, kog sampai begitu terkenalnya di Solo dan sekitarnya?

 


Nah sekedar mengingatkan, pernah lihat kaos ada tulisan sego kucing, nah itu salah satu menu di tempat wedangan bro/sist. Ada sebagian orang menyebutnya HIK, aku nggak tahu juga apa maksudnya, tapi dari beberapa komentar yang aku dapat, HIK di artikan dengan kepanjangan Hidangan Istimewa Kampung, ndak tahu benar apa nggak, tapi bolehlah. Pertanyaan selanjutnya apakah hidangan ditempat ini benar benar istimewa? Terserah sih kawan menilainya, ada sego kucing (nasi dengan sambal dan secuil ikan bandeng yang di goreng, dibungkus kertas ato daun) beberapa variasi yang kutemukan ada juga dikasih cumi, ato ada juga nasi goreng, tahu dan tempe bacem, jadah, telur puyuh, kulit sapi, iso, pisang,(di beberapa tempat ada juga yang menyedian makanan yang bahannya dari babi, biasanya kalo ragu-ragu tanya dulu “ opo ki lik?” kalo di jawab “babon” nah itu berarti babi)  dll, sedangkan minumannya ada teh, kopi, jeruk , susu dengan variannya (maksudnya terserah kawan mau dicampur seperti apa minuman itu). Istimewakah itu? Terserah kawan mau beri komentar apa, tapi ada satu hal yang menurutku kenapa wedangan bisa jadi ikon kota Solo, bukan karena sekarang banyak pelancong di Solo yang mencari tempat wedangan (besar) yang ada banyak di Solo, seperti di depan (dulu SMEA 3), Lapangan Kota Barat, di belakang Monumen Press, depan Jito, Manahan, di Semanggi yang jalan cabang (ini yang jualan temanku, hehehehe) dll, akan tetapi yang akan aku sampaikan disini adalah wedangan yang kecil yang ada di gelapnya sudut kampung dengan temaram lampu teplok,Lho kenapa?

Apakah di kampung tempat kawan ada tempat wedangan? Pernah kesana? Kalo belum pernah cobalah sesekali kesana, disana kawan akan bertemu dengan orang-orang yang kawan kenal secara pribadi, orang yang ada disekitar kawan, disana kawan akan dengar banyak tawa dan cerita dan tentu saja mengakrabkan, kenapa? Karena menurut saya ditempat wedangan yang ada disudut-sudut kampung itu adalah kanal (saluran) untuk mengekspresikan suasana hati dan uneg-uneg. Ada saat anda mendengar cerita kawan yang lagi naksir seseorang, kadang lewat juga topik kerja bakti kampung, ronda, rencana mau tanding bola, sinoman (itu suguhkan hidangan waktu ada hajatan), kadang juga wejangan dari pak RT ato pak RW, tetangga kita yang jadi Polisi juga cerita mengenai kasus (bisa dapat ilmu juga khan) sampai kasus PSSI, century, pilkada, kalo beruntung dapat pula mutiara hikmah dari imam measjid dikampung kawan, semuanya setara (equal) disitu terjadi interaksi, sharing dan saling melengkapi dan waktunya longgar (bisa sampai pagi bro), makanya karena banyaknya wedangan di Solo dan banyak yang nongkrong sampai pagi maka tak aneh kalo Solo di juluki juga kota yang tak pernah tidur. Jadi cobalah dengan segelas minuman dan nimbrung dengan komunitas kita orang yang kita kenal, topik bahasan yang kita tahu, salurkan pemikiran kawan pada kampung tempat kita tinggal. Oke! Ahhh dah malam nih “lik, bakarke jadah”. (i miss wedangan, kapanlagipulangkampung.com).

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s